Dinilai Pemberitaan Tidak Akurat Pasca Banjir Bandang Citengah Penggarap Dan Pelaku Usaha wisata Gelar Konfrensi Pers
Sumedang, Lintas Dunia Online. Menyikapi informasi yang telah menyebar melalui pemberitaan di media tentang dugaan adanya alih fungsi lahan esk HGU Margawindu yang selalu dikaitkan sebagai penyebab terjadinya banjir bandang Citengah - Cipancar pada Rabu 4 Mei 2022 lalu di aliran Sungai Cihonje, wilayah Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, dikatakan tidak akurat oleh para penggarap lahan dan pengelola usaha wisata Margawindu Cisoka.
Maka dengan hal tersebut penggarap lahan esk HGU Margawindu mengundang wartawan untuk jumpa Pers yang bertempat di Saung Baru Sawah Margawindu Desa Citengah Jumat 13/5/2022.
Ketua penggarap lahan esk HGU Margawindu Asep Kurniawan menjelaskan tujuan diadakan jumpa pers tersebut ingin menjelaskan fakta yang sebenarnya di lahan esk HGU Margawindu kepada awak media .
Menurut Asep informasi yang selama ini beredar di media harus diluruskan, supaya publik bisa menilai dengan baik.
Pada kesempatan itu sekretaris Kelompok Tani ( gapoktan) teh Margawindu Andi mengatakan atas nama para penggarap lahan esk HGU perkebunan teh di Margawindu, dirinya sangat menyayangkan dengan adanya informasi pemberitaan yang tidak akurat, pernyataan tidak mendasar disampaikan Wakil Bupati Sumedang, terkait tuduhan pemanfaatan lahan esk HGU yang dikelola masyarakat, sebagai salah satu penyebab banjir bandang di Citengah.
" Saya sangat menyayangkan pernyataan Pa Wakil Bupati Sumedang pada sejumlah media. Beliau selama ini, selalu mengkambing hitamkan pemanfaatan lahan eks HGU yang dikelola kami, sebagai penyebab banjir bandang," ujarnya
Padahal faktanya, kata Andi, berdasarkan hasil penetilian dilakukan WALHI juga hasil asassement BPBD Kabupaten Sumedang dan BKSDA, kondisi Lahan perkebunan teh di Margawindu dan Cisoka itu, ternyata tidak berpengaruh terhadap banjir bandang Sungai Cihonje di Citengah.
Andi juga menyampaikan bahwa Kelompok Tani Perkebunan Margawindu sebenarnya terdiri dari para penduduk kampung Cisoka, para penggarap kebun teh Cisoka, dan para penggarap perkebunan teh Margawindu.
"Para penggarap perkebunan teh Margawindu dan Cisoka ini, 80 persen merupakan warga asli Sumedang yang mayoritas berasal dari Desa Citengah dan Cipancar",ungkapnya
Berbicara soal keberadaan bangunan, Andi menjelaskan, bahwa bangunan bangunan tersebut bukan villa tapi saung saung untuk berteduh para wisatawan.
" Saya rasa bangunan bangunan yang ada sekarang bukan villa, tapi saung saung kecil untuk berteduh para wisatawan, dan warung warung kecil, gak tahu, kalau bangunan villa menurut pa Wabup kriterianya bagaimana, menurut saya yang bodoh, saung, warung dengan villa beda , villa itu bangunan yang mempunyai fasililas yang bisa disewakan", ungkap Andi
"Saat ini kawasan perkebunan memang terlihat telah berkembang menjadi tempat wisata. Namun menurut kami, semua itu tidak menyalahi, karena memang dalam Rencana Tata Ruang-nya juga, Cisoka ini merupakan kawasan wisata, kan buktinya sudah dibangun fasilitas menuju ke sini, untuk wisata. Kami atas nama Penggarap meminta kepada para awak media tolong luruskan informasi ini menjadi berimbang", Ujarnya. (Mat R)


