Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengelola Lahan esk HGU Keluhkan Kawasan Wisata Citengah Ditutup


Sumedang , Lintas Dunia Online . Pasca peristiwa banjir bandang akibat luapan air sungai Cihonje di Desa Citengah wilayah Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang Jawa Barat Rabu (4/5/2022) lalu, Destinasi Wisata Margawindu Sepi dari pengunjung.  Hal itu karena Bupati Sumedang menutup obyek Wisata di Citengah untuk sementara . 

Dengan ditutupnya obyek Wisata di kawasan Desa Citengah banyak dikeluhkan oleh para penggarap lahan esk HGU Teh Margawindu, pengusaha obyek wisata dan para pedagang yang biasa mencari napas di kawasan obyek wisata tersebut.

Seperti halnya, keluhan diungkapkan Asep Kurniawan (47) warga Desa Citengah salah seorang penggarap perkebunan Teh Margawindu yang juga membuka tempat usaha warung makanan kepada Wartawan Media Lintas Dunia Online Jumat (6/5/2022) di lokasi Perkebunan Teh Margawindu.


"Masalah bencana banjir bandang itu sudah hampir tiap tahun terjadi,  sekarang banjir bandang ini dikaitkan dengan adanya Perkebunan Teh Margawindu, sedangkan sungai yang mengalir ke citengah itu ada 5 Sumber air dari kawasan , justru kalau masalah stektur tanah di wilayah margawindu lebih padat, paling ada longsoran - longsoran  kecil dipinggir jalan saja", ujarnya.

Masih kata Asep, " dengan adanya penutupan obyek wisata yang ada di  kawasan Desa citengah sangat disayangkan, kan tidak semua tempat wisata di citengah kena bencana, contoh, di sini di margawindu ga ada bencana. Penutupan tempat wisata diseluruh Desa citengah mohon ditinjau kembali, kasihan juga sama Masyarakat Citengah yang mencari nafkah untuk menyambung kehidupan sehari harinya dari berjualan di kawasan ini, padahal momen seperti hari hari libur itu sangat ditunggu tunggu, apalagi libur lebaran seperti sekarang, mereka pedagang jauh jauh hari sudah mengeluarkan modal yang tidak sedikit, pas datang waktu yang ditunggu tunggu, mereka gigit jari", ujar Kurniawan. 

Disinggung juga Kurniawan soal perkataan Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan  di pemberitaan yang 

menyebutkan, banjir bandang tersebut terjadi, dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan di daerah resapan air yang menjadi bangunan liar (Bangli).

" Media dan Politisi sudah mengarahkan penyebab banjir bandang berasal dari daerah dampingan WKR di lahan esk HGU ini, padahal faktanya bukan.

‌Dilahan esk HGU tidak ada bangunan liar, aktivitas pembangunan di lahan esk HGU hanya sedikit, hanya ada saung - saung dan warung - warung kecil saja yang dikelola oleh kelompok. Yang saya kwatirkan dampak dari semua ini akan menghambat terhadap program TORA yang sudah dicanangkan", ujarnya.

( Mat R )